4/16/2009

Konsep Pendekatan Sistem


Pengertian Sistem

Di dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar dan mengucapkan kata "sistem". Kurikulum TK sampai SLTA sesuai SK Menteri P dan K No. 08/U/1975 pun menggunakan pendekatan sistem yang dikenal dengan nama PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).Kata "sistem" sering agak keliru diartikan. Misalnya ada yang menganggap "sistem" sama dengan"cara". Pada hal "sistem" bukanlah berarti "cara".Konsep untuk memahami arti "sistem", terlebih danulu perlu dipahami beberapa istilah yang bersangkut erat dengan "sistem" sebagai berikut: Sistem: Suatu gabungan dari komponen-komponen yang terorganisir seba¬gai suatu kesatuan, dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Contoh: sebuah "sekolah" (yang menjadi titik perhatian kita) adalah suatu "sistem". Sekolah terdiri atas murid, guru, kurikulum, gedung, kese¬muanya bertali-erat satu sama lain untuk mencapai tujuan."instruksio¬nal" atau kelembagaan.

Supra Sistem: Suatu sistem yang kompleks yang mencakup lebih dari satu sistem sebagai komponennya. Sub Sistem: Suatu kesatuan atau kumpulan kesatuan yang merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar yang bisa dibedakan dengan maksud untuk keperluan observasi atau mempelajarinya. Sistem Terbuka: Suatu sistem yang dapat menerima input misalnya berupa informasi dari luar sistem tersebut.

Sistem Tertutup: Suatu sistem yang tertutup untuk menerima input informasi yang datang dari luar. Feedback (Umpan balik): Informasi yang diperoleh dari hasil pelaksanaan sebelumnya yang berguna untuk perbaikan. Informasi ini berlangsung terus-menerus se¬panjang proses berjalan. Hierarch : Sekelompok orang, barang atau kegiatan yang diatur secara ber¬tingkat, grup atau kelas. Output (Keluaran): Hasil konversi dari proses suatu sistem yang dihitung sebagai ha sil, produk atau keuntungan.

Proses: Penerapan suatu cara dan sarana untuk mencapai suatu hasil atau produk.Produk: Hasil atau produk akhir.Systems Approach (Pendekatan Sistem): Suatu proses yang dengannya kebutuhan diidentifikasi, problem dipilih, syarat-syarat pemecahan problem diidentifikasi, pemecahan dipilih dari beberapa alternatif, metode dan alat dicari dan diterapkan, hasil dievaluasi, dan revisi yang diperlukan terhadap seluruh bagian dari sistem tersebut dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga kebutuham ter¬ebut dapat tercapai. Dengan memahami arti istilah-istilah tersebut di atas, maka penger¬tian sistem secara lebih mendalam dapat dicapai misalnya tentang defi¬nisi, unsur, sifat, tingkat, dan kegunaannya dalam penyusunan planning.

Definisi Sistem
Sesuai dengan pengertian di atas, suatu "sistem" adalah merupakan jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerja bersama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasar atas kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap "sistem" pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari komponen-komponen adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tu¬juan tersebut. .Contoh: Pemerintah, Sekolah, Pendidikan. Unsur-unsur suatu sistem: (1) Input (masukan) misalnya: sumber, biaya, personel dan (2) Output (keluaran) misalnya: hasil, produk, atau keuntungan.
Sifat-sifat suatu sistem:
a. Terbuka vs Tertutup. Terbuka berarti menerima informasi dari luar, tertutup berarti tak dapat menerima informasi dari luar. (b) Sederhana vs Komplek.1). Sederhana : a) Secara relatif hanya terdiri atas beberapa komponen, misalnya: amuba, sel-sel tubuh. (b) Hasil/produknya mungkin sederhana, misal hasilnya sama un¬tuk sepanjang waktu (hasil cetakan bata). 2). Komplek (rumit); (a) Terdiri banyak komponen yang saling berinteraksi, misalnya pabrik televisi. (b) Keseluruhannya (totalitasnya) lebih daripada sekedar jumlah dari bagian-bagian.(c) Bagian-bagiannya tak bisa dipahami kalau berdiri terpisah satu sama lain. (d) Bagian-bagiannya saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain.
Memilih satu cara yang terbaik menurut pertimbangan atau penilaian kita. Kita juga memperhatikan faktor-faktor lain yang sangat penting dalam pembuatan keputusan. Faktor yang dimaksud misalnya waktu dan biaya. Dengan demikian dapat dikemukakan pentingnya perencanaan (planning) secara sistematis ialah; Untuk pengganti keberhasilan yang diperoleh secara untung¬-untungan atau nasib mujur (good luck); Sebagai alat untuk menemukan dan memecahkan masalah; Untuk memanfaatkan sumber secara efektif (tepat guna).

Keuntungan adanya suatu perencanaan.
Sebagai manusia, kita semua menyadari, bahwa ada hal-hal yang kita tak mampu untuk mengontrolnya. Namun kita pun menyadari, banyak juga hal-hal yang kita mampu untuk mengontrolnya. Dalam hal ini pendekatan sistem (systems approach) memberikan kepada kita suatu alat untuk menganalisis, untuk mengidentifikasi, dan memecahkan masalah sesuai dengan yang kita inginkan, dengan menggunakan perencanaan yang sistematis; Suatu perencanaan yang sistematik mempunyai daya ramal dan kon¬trol yang baik. Proses ini dapat berjalan baik karena kita; Merumuskan secara spesifik dan nyata akan kebutuhan (need assissment); Menggunakan logika, proses setapak demi setapak, untuk menuju perobahan yang diharapkan; Memperhatikan macam-macam pendekatan dan memilih yang lebih sesuai dengan situasi dan kondisi; Menetapkan mekanisme "feedback" yang memberitahukan kemajuan kita, identifikasi hambatan-hambatan dan menunjuk¬ kan perubahan-perubahan yang diperlukan; dan Menggunakan istilah dan langkah yang jelas , mudah dikomunikasikan dan dipahami orang lain. Meskipun banyak keuntungannya, planning tersebut pun mempunyai kelemahan antara lain Menghabiskan waktu, tenaga dan biaya; Keadaan bisa berubah disaat proses sedang berjalan.

Model-Model Perencanaan Secara Sistematis
Suatu perencanaan secara sistematis pada hakekatnya sama dengan proses pemecahan masalah secara umum (ageneral problem-solving process).Sebuah model menurut Kaufman (1979) adalah sebagai berikut: Diagram 1. Model Perencanaan menurut Kaufman. Sesuai dengan model tersebut, langkah-langkah suatu perencanaan yang sistematis adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi masalah berdasarkan kebutuhan.
2. Tentukan syarat-syarat dan altematif pemecahannya.
3. Pilih strategi pemecahannya.
4. Laksanakan strategi yang telah dipilih untuk mencapai hasil yang diharapkan.
5. Tentukan efektifitas hasilnya dengan jalan mengadakan evaluasi.
6. Adakan revisi bila perlu pada setiap langkah dari proses tersebut.

Pola-Pola Instruksional

Berdasarkan definisi teknologi pendidikan yang sekarang, dapat diidentifikasikan empat pola dasar pembelajaran yang dapat diorganisasikan. Pola pertama merupakan pola tradisional dalam bentuk tatap muka guru-siswa. Dalam pola ini guru, yang bertindak selaku Komponen Sistem Instruksional, merupakan satu-satunya sumber. Pola ini dapat digambarkan dalam diagram berikut: PEMBELAJARAN TRADISIONAL (MORRIS, 1963) Bentuk pola yang kedua merupakan guru dengan “alat bantu audiovisual” untuk membantu kegiatan pembelajaran. Pola ini masih tetap memandang guru sebagai Komponen Sistem Instruksional yang utama, dengan sumber belajar lain (seperti Bahan Pelajaran, Perangkat Keras, Teknik, Latar Kegiatan Belajar) yang dipergunakan sebagai tambahan. Morris menyebut pola ini “guru dengan media” PEMBELAJAR TRADISIONAL (MORRIS, 1963) Pola instruksional yang ketiga mengandung pemanfaatan sistem instruksional yang lengkap, meliputi pembelajaran bermedia di mana guru terlibat dalam merancang dan menilai serta menyeleksi, maupun berperan dalam fungsi pemanfaatan untuk hal-hal yang belum tercakup dalam sistem instruksional. Sebagian besar proses pembelajaran diberikan melalui sistem instruksional yang telah dirancang sebelumnya, dan yang terdiri dari Komponen Sistem Instruksional yang bukan manusia (Bahan, Peralatan, Teknik, Latar). FUNGSI MEDIA NO. 1 : GURU DENGAN MEDIA
MORRIS, 1963). Pola instruksional keempat meliputi penggunaan sistem instruksional lengkap yang hanya terdiri dari pembelajaran bermedia, di mana guru tidak berperan langsung, pendekatan “media saja” ini tidak dikemukakan oleh Morris, namun dapat digambarkan sebagai berikut: FUNGSI MEDIA NO. 3 : PEMBELAJARAN BERMEDIA. Kombinasi berbagai pola instruksional dasar tersebut, dapat ditunjukkan dengan diagram Morris sebagai berikut ini.
SISTEM INSTRUKSIONAL.Heinich (1970) mengajukan “Model tentang Paradigma Pengelolaan Instruksional” yang sejalan dengan ringkasan diagram Morris, bedanya Heinich menunjukkan dengan jelas hubungan terkendali antara guru kelas dan guru bermedia. Heinich memandang kegiatan kelas yang tradisional sebagai “guru dengan media”, yang meliputi apa yang oleh Morris disebut “pembelajaran tradisional” dan “guru dengan media”. Heinich lebih lanjut menekankan bahwa dalam kegiatan ini guru kelas menguasai semua media, dan keputusan untuk menggunakan atau tidak sepenuhnya ada dalam kewenangannya.

SUATU MODEL PARADIGMA BARU PENGELOLAAN INSTRUKSIONAL (ANGKA-ANGKA DITAMBAHKAN UNTUK MEMPERLIHATKAN HUBUNGAN DIAGRAM INI DENGAN GAMBAR B, C, DAN D.
Pola hubungan kedua Heinich (periksa nomor 2 pada gambar di atas) menunjukkan “pembagian tanggung jawab” antara guru kelas dan guru bermedia. Pola ini meskupun mirip dengan diagram Morris “guru dan media” (Gambar C), namun lebih eksplisit mengenai kendali oleh guru bermedia.Pengaturan ini memungkinkan sistem yang bersifat adaptif, meskipun tetap mempertahankan keunggulan “mutu pengajaran dalam arti luas” melalui media. Perhatikanlah bahwa guru bermedia di bagian tengah (periksa model 6.8) mencapai siswa tanpa melalui guru kelas. Dengan kata lain siswa menggunakan sebagian waktunya dengan guru bermedia dan selebihnya dengan guru kelas. Bukan guru kelas yang memutuskan apakah siswa perlu belajar dari guru bermedia atau tidak. Keputusan tersebut ditetapkan pada tingkat perencanaan kurikulum. Pola ketiga (periksa nomor 3 pada Gambar (F) oleh Heinich menunjukkan di mana seluruh pembelajaran dilakukan oleh guru bermedia. Pola ini mirip dengan pola “media saja” (Gambar D). dalam pola ini guru kelas sebagai Komponen Sistem Instruksional insani, tidak terlibat dalam fungsi pemanfaatan. Guru bermedia tidak mencapai siswa melalui guru kelas, dan tidak pula berbagi tanggung jawab dengan guru kelas. (Heinich, 1970.
Oleh karena itu, teknologi pendidikan di samping mempunyai dampak pada pengambilan keputusan instruksional pada tingkat-tingkat yang tinggi, juga memungkinkan adanya empat pola pembelajaran yang berbeda. Keempat pola ini bila dinyatakan berdasarkan definisi yang sekarang, dapat diringkas sebagai berikut:
1). Sumber Belajar Insani/Komponen Sistem Instruksional saja 2). Sumber Belajar/Komponen Sistem Instruksional berupa Bahan, Alat, Teknik dan Latar yang berfungsi melalui Sumber Belajar/Komponen Sistem Instruksional Insani terhadap si-belajar.3). Sumber Belajar/Komponen Sistem Instruksional berupa Bahan, Alat, Teknik dan Latar (yang dipadukan dalam produk atau sistem instruksional dalam bentuk “pembelajaran bermedia”) yang berinteraksi dengan si-belajar dalam suasana tanggung jawab bersama dengan Sumber Belajar/Komponen Sistem Instruksional Insani. 4). Sumber Belajar/Komponen Sistem Instruksional berupa Bahan, Alat, Teknik dan Latar (yang terpadu dalam sistem instruksional berbentuk pembelajaran bermedia) yang berinteraksi sendiri dengan si belajar tanpa campur tangan Sumber Belajar/Komponen Sistem Instruksional Insani.

0 komentar: