3/27/2012

Pengembangan Sistem dan Disain Intruksional

Pada waktu yang lalu, rencana untuk mengembangkan sistem dan disain instruksional telah dibuat kebanyakannya didasarkan atas in­tuisi, maksud yang tak jelas, dan penilaian yang subyektif. Namun, pada dewasa ini dengan berkembangnya teori-teori tentang bagaimana siswa belajar, berkembangnya macam-macam paket atau media belajar, dite­mukannya metode-metode belajar baru, telah mendorong para pendidik untuk mencari pendekatan baru dalam mengembangkan sistem dan di­sain instruksional. Pendekatan baru ini didasarkan atas kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks, terdiri atas banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja bersama secara baik untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Pengembangan perencanaan tintuk tujuan tersebut yang sekarang men­dapatkan perhatian besar adalah yang didasarkan atas konsep sistem. Konsep sistem ini menurut Kemp (1977, p. 6) "refers to the terhnleal in­tegration of men and machine". Konsep pendekatan sistem (systems approach) tersebut membedakan mana-mana tugas yang kiranya lebih baik bila dikerjakan oleh manusia, dan mana yang paling baik bila dilakukan oleh mesin. Diterapkan kepada kegiatan pendidikan, konsep pendekatan sistem pada hakekatnya adalah proses untuk menemukan suatu cara untuk memecahkan problem pendidikan dan mencari altematif pemecahan­nya. Untuk memahami penerapan konsep pendekatan sistem di dalam pengembangan sistem dan disain instruksional, berikut akan diuraikan mengenai definisi, dasar-dasar dan model pengembangan sistem dan di­sain instruksional.


Definisi

Istilah pengembangan sistem instruksional (instructional systems development) dan disain instruksional (instructional design) sering dianggap sama, atau setidak-tidaknya tidak dibedakan secara tegas dalam penggunaannya, meskipun menurut arti katanya ada perbedaan antara "disain" dan "pengembangan". Kata "disain" berarti "membuat sketsa atau pola atau outline atau ren­cana pendahuluan". Sedang "mengembangkan" berarti "membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif, dan sebagainya." Beberapa definisi yang menunjukkan persamaan antara keduanya adalah sebagai berikut

  1. Pengembangan sistem mstruksional adalah suatu proses sedara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pengajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitasnya, dan praktis bisa dilaksanakan (Ely, 1979, p.4).
  2. Sistem instruksional adalah semua materi pelajarari dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan senyatanya (Baker; 1971, p: 16).
  3. Disain instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengem-bangan paket pelajaran, kegiatan menga­jar, uji coba, revisi, dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar (Briggs, 1979, p. 20).
  4. Disain sistem instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan instruksional. Semua komponen sistem ini (tujuan, materi, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lain dipandang sebagai kesatuan yang teratur sistematis. Komponen-komponen tersebut terlebih dulu diuji coba efektifitasnya sebelum disebarluaskan penggunaannya (Briggs, 1979, p. XXI).
Dasar-Dasar Pengembangan Sistem dan Disain Instruksional.

Untuk memahami dasar-dasar pengembangan sistem dan disain instruksional, perlu diketahui terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan "Pengajaran" (instruction). Menurut Merril (1971, p. 10), "pengajaran" adalah suatu kegiatan di mana seseorang dengan sengaja diubah dan dikontrol, dengan maksud agar ia dapat bertingkah laku atau bereaksi trrhadap kondisi tertentu. Pengajaran merupakan salah satu bagian dari keseluruhan kegiatan mengajar. Termasuk di dalamnya adalah menyiapkan pengalaman yang siap dipakai, mengrejakan tugas-tugas administrasi, mengadakan pende­katan terhadap siswa,dan sebagainya. Pengajaran berbeda dengan pengembangan kurikulum. Pengem­bangan kurikulum meliputi penyusunan disain suatu bidang studi (sub­ject matter) dari suatu tingkat sekolah atau lembaga pendidikan tertentu. Pengajaran lebih menekankan pada aspek bagaimana (how to), sedang pengembangan kurikulum lebih menekankan pada aspek "apa" (what to). Keputusan yang berkenaan dengan kurikulum berorientasi kepada isi atau materi (content oriented), sedang putusan yang berkenan dengan pengajaran adalah berorientasi kepada proses (process oriented). Pengajaran erat berkait dengan belajar namun tak persis sama. Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan makhluk hidup. Pengajaran hanya berlangsung manakala usaha tertentu telah dibuat untuk mengubah suatu keadaan sedemikian rupa, sehingga suatu hasil belajar tertentu dapat dicapai. Dengan demikian "kesenga­jaan" merupakan karakteristik dari suatu pengajaran.

Apakah yang dimaksudkan dengan Pengembangan Sistem lnstruksio­nal?Dihubungkan dengan pengertian "Instruction" seperti tersebut di atas, maka definisi pengembangan sistem instruksional adalah "suatu. proses menentukan dan menciptakan situasi dari kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan di dalam tingkah lakunya" (Carey, 1977, p. 6). Pengembangan sistem instruksional lebih lanjut meliputi proses "monitoring" interaksi siswa dengan situasi dan pengalaman belajar, agar para penyusun disain instruksional dapat menilai efektifitas suatu disain. Pengembangan sistem instruksional senantiasa didasarkan atas pengalaman empiris, dan prinsip-prinsip yang telah teruji kebenarannya, dalam arti telah ditentukan berdasar prosedur yang sistematis, peng­amatan yang tepat, dan percobaan yang terkontrol. Hal ini berbeda dengan metode atau cara mengajar yang diperoleh se­cara tradisional dan dikembangkan melalui pengalaman semata-mata,

Apakah yang dikerjakan oleh para pengembang sistem dan disain in­struksional ? Kegiatan pokok bagi para pengembang sistem dan disain instruk­sional meliputi:
  1. Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur (learning outcomes).
  2. Identifikasi karakteristik siswa yang akan belajar.
  3. Berdasar 1 dan 2 tersebut, memilih dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar bagi para siswa.
  4. Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
  5. Menentukan situasi dan kondisi, dalam mana responsi siswa akan diamati dan dipandang sebagai salah satu contoh dari tingkah laku yang diharapkan.
  6. Menentukan kriteria, seberapa prestasi siswa telah dianggap cukup.
  7. Memilih metode yang tepat untuk menilai kemampuan siswa untuk mendemonstrasikan tingkah laku seperti tersebut pada angka 1.
  8. Menentukan metode untuk memonitor responsi siswa- sewaktu­
  9. berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
  10. Mengadakan perbaikan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.

Dua Macam Proses Pengembangan Sistem dan Disain Instruksional

Prosedur atau proses yang ditempuh oleh para pengembang sistem instruksional bisa meliputi dua cara: 1). Dengan pendekatan secara empiris: Proses ini dilaksanakan tanpa menggunakan dasar-dasar teori secara sistematis. Di sini paket atau bahan pengajaran disusun berdasar pengalaman si pengembang, siswa disuruh mempelajari lalu hasilnya diamati. Bila hasilnya tak sesuai dengan apa yang diharapkan, materi pengajaran tersebut direvisi dan pekerjaan penyusunan paket (materi) penga­jaran diulang.. Tentu saja pendekatan semacam ini mempunyai beberapa kelemah­an. (a). Setiap pengembang harus mulai dari awal untuk mencari atau menemukan semua langkah dan dasar yang diperlukan untuk mengembangkan suatu materi pengajaran. (b). Berulang kalinya pembuatan materi (paket) pengajaran baru. Hal ini berarti menghendaki berulang kau uji coba, dan ini berarti kurang efisien. (2). Dengan mengikuti atau membuat suatu model (paradigm approach). Menurut pendekatan ini, hasil belajar yang diharapkan, bisa diklasi­fikasikan sesuai dengan tipe-tipe tertentu. Untuk, tiap tipe tujuan khusus (objective) dapat dipilihkan cara-cara tertentu untuk menca­painya, kondisi tertentu untuk mengamati responsi siswa bisa dicip­takan, dan perubahan-perubahan bilamana perlu bisa diadakan. Di dalam penyusunan disain instruksional, diadakan langkah-langkah secara sistematis, sehingga uji coba secara empiris terhadap suatu program dapat mendorong untuk adanya informasi mengenai efektifitas suatu program, yang sekaligus bisa untuk menguji model tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan model (paradigm) Pengembangan Sistem Instruksional ?Model pengembangan sistem instruksional sering dibedakan dengan teori belajar dalam beberapa hal. Teori belajar atas dasar ilmu jiwa eksperimen terutama tertarik untuk menjelaskan proses yang terjadi warga belajar, apa yang menyebabkan ia berubah tingkah lakunya sebagai hasil yang diperoleh dari pengalaman atau interaksinya dengan lingkungan belajar. Juga titik beratnya adalah pada mekanisme yang terjadi pada warga belajar.
Model pengembangan sistem instruksional di lain pihak, berusaha untuk menentukan prosedur secara khusus dalam mengamati berbagai macam klasifikasi tingkah laku warga belajar, dan prosedur untuk mengubah rangsangan sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa sesuai dengan hasil yang diharapkan dalam suatu interaksi dengan lingkungan. Jadi, titik beratnya ialah pada mekanisme dan proses dalam suatu macam lingkungan tertentu, dalam suatu susunan tertentu untuk membawa perubahan tingkah laku siswa.
Psikologi belajar lebih banyak mempersoalkan keadaan (conditions) yang diperlukan untuk membuat belajar lebih efektif dan efisien. Meski antara teori belajar dan pengembangan sistem instruksional sangat erat hubungannya, namun ada perbedaan sedikit mengenai penekanannya. Teori belajar menjelaskan fungsi-fungsi yang ada di dalam siswa, sedang pengembangan sistem instruksional menentukan kondisi dan lingkungan untuk mengubah dan mengamati perubahan tingkah laku siswa.
Siapakah yang dimaksud dengan Pengembang Sistem dan Disain In­struksional ?Mengingat pengembangan sistem dan disain instruksional bisa ter­jadi pada berbagai tingkat dan macam bidang, maka kelompok-kelom­pok berikut adalah merupakan contoh "developer dan designer":
  1. Guru Sekolah. Para guru sekolah dapat dipandang sebagai "developer dan designer". Namun ada perdebatan mengenai hal ini, sebab kenyataannya banyak para guru hanyalah sekedar pemakai hasil orang lain, misalnya buku teks, modul, pengajaran ber­programa,dan sebagainya.
  2. Pengarang. Para pengarang paket pengajaran seperti modul, buku paket, kumpulan tes, diktat, dapat pula dipandang sebagai "developer dan designer". Namun perlu dipertanyakan, seberapa banyak prinsip-prinsip pengembangan instruksional diterapkan oleh para pengarang ter­sebut ?
  3. 3. Pendidikan dan ahli psikologi. Kelompok ini berfungsi sebagai "developer dan designer" dalam usahanya untuk mengembangkan model-model, mencobakan dan menemukan model-model yang baru.
  4. "Developer dan Designer" yang profesional. Di luar kelompok 1-­3 tersebut menurut Kemp (1977, p. 5), muncul peranan baru yang disebut "profesional instructional developer dan designer". Ini ada!ah kelompok yang berusaha bertindak sebagai "guidance" dan membantu para guru danteam perencana untuk mengembangkan semua aspek program baru.
Di USA profesi pengembang sistem dan disain instruksional telah meluas di kalangan perusahaan swasta dan militer. Kelompok ini, dengan penuh kesadaran, menerapkan prinsip-prinsip pengem­bangan sistem instruksional, baik dengan menggunakan pendekatan empiris maupun teoritis (paradigm dan model). Bagaimana haanya dengan di Indonesia? Profesi pengembang sistem dan disain instruksional di Indonesia dewasa ini nampaknya masih belum nampak secara tegas. Fungsi ini kebanyakan masih dirangkap oleh para guru, para dosen dan ad­ministrator yang terutama bekerja pada proyek-proyek yang sifatnya temporer seperti penulis modul, skrip untuk program radio, kaset, slide suara, proyek pengembangan kurikulum dan sebagainya. Fungsi "developer dan designer" di Indonesia dewasa ini nam­paknya juga masih banyak yang dirangkap oleh para peneuti dalam bidang pendidikan, misalnya percobaan penggunaan modul baik di Perguruan Tinggi maupun pada tingkat SLTA ke bawah, percobaan penggunaan televisi dan radio untuk pendidikan, penyusunan paket buku dan sebagainya. Kesemuanya masih dititikberatkan pada penelitian semata, tidak dititikberatkan pada pengembangan sistem instruksional secara keseluruhan sehingga peneutian di sini adalah merupakan bagian integral dari pengembangan sistem tersebut.

Model Pengembangan Sistem Pembelajaran

"Model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewu­judkan suatu proses, seperti penilaian suatu kebutuhan, pemilihan media, dan evaluasi". (Briggs, 1978, p. 23). Sesuai dengan pengertian tersebut di atas, maka yang dimaksud de­ngan model pengembangan sistem dan disain instruksional adalah se­perangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan sistem dan disain instruksional. Ada berbagai model pengembangan sistem dan disain instruksional, mulai dari yang sangat kompleks (rumit) sampai kepada model yang sederhana. Masing-masing model mempunyai persamaan dan perbedaan.Berikut akan dikemukakan tiga model: 1.Model PPSI 2. Model Kemp. 3. Model Dick dan Carey. 4 Kombinasi Kemp & Dick

0 komentar: